Hukum Mengalungkan Jimat pada Bayi, Simak Yuk Bund!

Hukum Mengalungkan Jimat pada Bayi

Aqiqah al Hilal – Di tengah kalangan masyarakat Indonesia, jimat merupakan barang yang dianggap dapat mendatangkan manfaat serta keberuntungan bagi pemiliknya.

Karena itulah, banyak dari masyarakat Indonesia membuat atau membeli jimat untuk mereka sendiri atau bahkan untuk anak-anaknya.

Bahkan, ada pula yang mengalungkan jimat tersebut untuk bayi yang baru lahir. Lantas, bagaimanakah hukumnya memberikan jimat pada seorang anak atau bayi baru lahir?

Membuat atau memakai jimat sebagai wasilah memohon perlindungan kepada Allah SWT masih diperbolehkan dalam islam.

Begitu juga boleh membuat jimat untuk dikalungkan pada bayi. Bahkan hal ini sudah pernah dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Umar kepada anaknya yang masih kecil.

Beliau menulis sebuah kalimat thayyibah agar anaknya terlindung dari gangguan setan, kemudian tulisan tersebut dikalungkan pada anaknya.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Azkar, dari kakek Amr bin Syuaib, beliau berkisah bahwa:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعلمهم من الفزع كلمات : أعوذ بكلمات الله التامة من غضبه وشر عباده ومن همزات الشياطين وأن يحضرون وكان عبد الله بن عمرو يعلمهن من عقل من بنيه ، ومن لم يعقل كتبه فعلقه عليه

Sesungguhnya Rasulullah SAW mengajari para sahabat sejumlah kalimat dari rasa takut yang mencekam; ‘A’uudzu bi kalimaatillaahit tammati min ghadhabihii wa syarri ‘ibaadihii wa min hamazatisy syayaathiin wa ayyahdhuruun (Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu).

Abdullah bin Umar mengajarkan kalimat itu pada anaknya yang sudah berakal. Sementara anaknya yang belum berakal, maka beliau menuliskan, lalu mengalungkan tulisan itu padanya.

Hadits tersebut menjadi dalil bahwa membuat serta mengalungkan jimat pada bayi atau anak kecil itu diperbolehkan.

Namun, hal tersebut tidak boleh jika sudah berbentuk syirik dan dipakai tanpa didasari oleh agama islam, seperti meminta bantuan kepada dukun dan setan untuk mendapatkan keberuntungan seperti kekayaan dan sebagainya.

Sumber: bincangsyariah.com & today.line.me

Penulis: Aisyah