“Anak saya susah diatur…”, “Kalau dibilangin tidak pernah dengar…”, mungkin kalimat-kalimat ini sering terucap dari Ayah dan Bunda. Saat menghadapi anak yang dianggap “bandel”, reaksi pertama kita sering kali adalah menyalahkan anak. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, bisa jadi ada hal yang perlu kita perbaiki sebagai orang tua.
Dalam Islam, Si Kecil adalah amanah. Ia lahir dalam keadaan bersih, lalu lingkunganlah yang membentuknya dan lingkungan terdekatnya adalah keluarga. Cara kita berbicara, bersikap, bahkan cara kita menghadapi masalah, semua terekam oleh anak tanpa kita sadari.

Anak yang terlihat sulit diatur sering kali bukan karena ia ingin melawan, tetapi karena ia sedang belajar memahami dunia dengan caranya sendiri. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting: membimbing, bukan sekadar menghakimi.
Lalu, perhatikan juga bagaimana kita memberi contoh. Anak tidak hanya mendengar nasihat, tapi meniru perilaku. Jika ingin anak berkata jujur, maka kejujuran harus lebih dulu terlihat dalam diri kita. Jika ingin anak lembut, maka kelembutan itu harus hadir di rumah.
Komunikasi juga menjadi kunci. Alih-alih langsung memarahi, cobalah mendengarkan. Dekati anak dengan kasih sayang, bukan dengan emosi. Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang baik, lembut dalam mendidik, namun tetap tegas dalam prinsip. Bukan berarti Si Kecil dibiarkan tanpa aturan. Karena Si Kecil perlu tahu mana yang benar dan salah, tapi juga perlu merasa aman dan dicintai saat belajar dari kesalahannya.
Yang tak kalah penting, biasakan anak dekat dengan kebaikan sejak dini. Libatkan dalam ibadah, ajak ke lingkungan yang baik, dan tanamkan nilai akhlak secara perlahan. Karena membentuk karakter bukan pekerjaan instan, melainkan proses yang butuh kesabaran.
Pada akhirnya, anak yang dianggap sulit diatur adalah amanah yang perlu dididik dengan lebih sabar. Mungkin bukan anaknya yang sepenuhnya salah, tapi cara kita yang perlu diperbaiki. Yuk, mulai dari diri kita. Karena dari orang tua yang terus belajar, akan lahir anak-anak yang tumbuh lebih baik.
Penulis: Indra Rizki

