Ayah Bunda, pernah merasa sudah sering menasihati Si Kecil, tapi ia tetap mengulang kesalahan yang sama? Bisa jadi, bukan karena ia tidak mau mendengar—melainkan karena anak lebih banyak belajar dari apa yang ia lihat, bukan hanya dari apa yang ia dengar. Dalam Islam, mendidik anak bukan sekadar dengan lisan, tetapi melalui teladan nyata. Anak adalah peniru ulung. Ia memperhatikan bagaimana orang tuanya berbicara, bersikap, hingga merespons suatu keadaan. Dari situlah ia belajar tentang kehidupan.

Misalnya, ketika Ayah Bunda meminta anak untuk berkata jujur, tapi di sisi lain ia melihat orang tuanya “berbohong kecil”, maka yang ia tankap bukan nasihatnya, melainkan perilakunya. Begitu juga saat kita mengajarkan sabar, tapi sering marah di depan anak—pesan yang sampai jadi berbeda.
Karena itu, keteladanan adalah kunci utama dalam parenting Islami. Mulailah dari hal-hal sederhana. Jika ingin anak rajin sholat, biasakan Ayah Bunda menjaga sholat tepat waktu. Jika ingin anak berbicara sopan, gunakan kata-kata yang lembut dalam keseharian. Jika ingin anak disiplin, tunjukkan sikap konsisten dalam menjalani aturan.
Anak tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi butuh contoh yang nyata. Selain itu, penting juga untuk konsisten. Anak akan lebih mudah memahami nilai jika ia melihat kebiasaan yang sama dilakukan berulang-ulang. Dari situlah terbentuk karakter, bukan dari satu dua nasihat saja. Dan jangan lupa, setakan kasih sayang dalam setiap prosesnya. Menjadi teladan bukan berarti harus kaku atau selalu benar, tapi bagaimana Ayah Bunda menunjukkan sikap yang baik sambil tetap hangat dan dekat dengan anak.
Tunjukkan bagaimana cara meminta maaf, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab. Dari situ, anak belajar bahwa menjadi baik adalah proses, bukan tuntutan untuk selalu sempurna. Mendidik anak memang bukan hal yang instan. Tapi dengan teladan yang baik, insyaAllah nilai-nilai kebaikan akan tumbuh secara alami dalam diri Si Kecil. Karena pada akhirnya, anak bukan hanya mendengar apa yang kita ucapkan—mereka sedang meniru siapa diri kita setiap hari.
Penulis: Indra Rizki

