SENANDUNG ALQURAN DI JANIN BUNDA

anak-baca-alquran
Rata-rata ibu yang menginginkan anak-anaknya menjadi penghafal Al-quran memiliki cita-cita yang kuat dan motivasi yang luar biasa sehingga segala upaya untuk sampai kepada harapan itu bisa terwujud. Katakanlah ibundanya Abdur Rahman Farih, di usia 3 tahun hafal quran 30 juz, mengungkapkan pengalaman ruhiyyahnya untuk menjadikan anaknya penghafal quran.
“ Ketika dalam kondisi hamil saya membaca Al-Quran. Dan setiap hari Jumat saya membaca surah Al-Kahfi. Sedangkan setiap hari saya membaca mu’aawidzatain (surah An-Naas dan surah Al-Falaq), surah Al-Mulk dan surah Maryam. Lalu setelah kelahiran Abdur Rahman, saya membacakan Al-Quran tiap hari kepadanya. “
Kita juga bisa mendengar kisah ibunya Husen Tabataba’i yang memiliki ruhiyyah yang tinggi dalam memproses putranya untuk meraih kemuliaan sebagai hafidz Al-Quran.
“Selama dalam kandungan dan ketika masa disusui, ibu Husen teratur membacakan Al-Quran untuk anaknya Husen, selalu berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang sholeh dan pintar, selalu berwudhu sebelum menyusui, rajin pergi ke mesjid, berusaha menghafal dan memahami isi Quran, mendekatkan diri pada Quran, menjauhkan dari musik-musik non Islami, percampuran laki-laki dan perempuan dan berbagai bentuk prilaku non islami yang lain.”
Di Indonesia baru-baru ini kita ditakjubkan oleh Musa yang hafal Quran 30 juz di usia yang belum genap 6 tahun. Berdasarkan apa yang dituturkan oleh ibunya bahwa Musa sudah diperkenalkan dan diperdengarkan Al-Quran sejak dalam kandungan bahkan ayahnya Hanafi pun turut memperdengarkan lantunan al-Quran di perut ibunya ketika masih janin.
Tulisan ini bukan hendak meneliti hubungan pendidikan Al-Quran sejak janin dengan lahirnya anak-anak penghafal, tapi ingin mengambil inspirasi dari ibu-ibu hebat yang telah lahir dari rahimnya, anak-anak mulia dan hebat. Ibu-ibu ini adalah para orang tua yang memiliki tekad baja dan harapan-harapan yang tinggi untuk menjadikan anak-anaknya penghafal Al-Quran dan menempuh segala sesuatunya yang mengantarkan ke arah itu. Memberikan suasana imani dan qurani yang kondusif sejak mengandung, bergaul bersama Al-Quran setiap hari dan diniatkan bacaan untuk anaknya agar kelak aliran senandung yang dibacanya memudahkan bagi anaknya menjadi penghafal Al-Quran.
Pensuasanaan lantunan Al-Quran sejak janin adalah penting karena indera pendengar janin lebih berfungsi dibandingkan indra lainnya. Maka bila dibacakan ayat-ayat suci Al-Quran, janin akan merasakan ketenangan dan kedamaiannya bahkan menurut hasil USG ketika dibacakan Al-Quran dalam keadaan bersujud sebagi respon dari dibacakannya Al-Quran. Lihat disinihttps://www.youtube.com/watch?v=37qdh0ZBaLc
Bahkan menurut penelitian di Barat (walaupun ada pendapat yang membantah penelitian ini), kecerdasan anak bisa dimulai dengan musik klasik Mozart, karena suara-suara yang lembut dan menenangkan akan mampu membuat saraf-saraf otak janin akan lebih terhubung dengan teratur. Apa lagi senandung Al-Quran tentu lebih dahsyat lagi karena lahir dari rasa taqarrub yang tinggi dengan Allah SWT.
Persoalannya sekarang adalah, apakah ibu selalu sedia membaca Al-Quran dan memiliki target untuk khatam selama mengandung anaknya seperti yang dilakukan oleh Ibunya Abdur Rahman Farih? Bila ketersediaan ini tidak ada apalagi tidak memiliki target, pastinya ibu sudah melewati fase yang sangat unggul ini untuk melahirkan anak hafidz/hafidzoh. Adalah fase untuk mendapatkan keberkahan dan kemudahan dalam mendidik anak-anak khususnya dalam menghafal.
Lagi pula ibu hamil yang giat membaca Al-Quran akan membuat dirinya tenang, pikiran dan perasaannya tenang karena selalu dalam pengaruh kesadaran berhubungan dengan Allah. Banyak sekali keutamaan bagi siapapun yang senantiasa membaca Al-Quran akan mendapatkan kesempurnaan pahala dan senantiasa bertambah karunia :
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).
Memperoleh pahala sholat sepanjang malam :
Tamim Ad Dary radhiyalahu ‘anhu berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468)
Lebih baik ganjarannya dibandingkan mendapatkan 3 onta dalam keadaan hamil, gemuk dan besar :
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah salah seorang dari kalian jika dia kembali ke rumahnya mendapati di dalamnya 3 onta yang hamil, gemuk serta besar?” Kami (para shahabat) menjawab: “Iya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salah seorang dari kalian membaca tiga ayat di dalam shalat lebih baik baginya daripada mendapatkan tiga onta yang hamil, gemuk dan besar.” (HR. Muslim).
Pendidikan Al-Quran itulah sebaik-baik pelajaran ketika ibu sedang mengandung anaknya, membacanya, menghafalkan, mengkaji dan mengamalkannya, karena semua ilmu dalam bimbingan wahyu. Inilah yang mempengaruhi janin bunda dalam banyak hal kecerdasan, kemudahan dalam mendidik, kemudahan dalam mengarahkan, lisan yang terjaga, prilaku yang sedap di pandang mata dll.
Kualitas para pengukir peradaban berikutnya harus bisa mendapatkan nashrullah dengan gemilang baik saat khilafah akan ditegakkan maupun saat khilafah tegak. Generasi itu haruslah generasi Qur’ani yang dalam benaknya senantiasa bergelimang Al-Quran, yang lisannya selalu basah dengan Al-Quran dan prilakunya dipenuhi cahaya Al-quran sehingga kualitas generasi inilah yg diberikan. Di tangan mereka Khilafah tegak kembali dan meraih kemenangan-kemenangan Islam, mengukir kembali kejayaan Islam untuk kedua kalinya. Mereka itulah generasi yang lahir dari rahim ibu yang senantiasa menyiapkan anaknya untuk Al-Quran.
Wallahu a’lam bishshowab.
Oleh: Yanti Tanjung