Aqiqah adalah salah satu syiar Islam yang sering dilakukan saat menyambut kelahiran anak. Namun lebih dari sekadar ritual penyembelihan, aqiqah memiliki makna spiritual, sosial, dan pendidikan yang mendalam. Secara syariat, aqiqah merupakan bentuk syukur kepada Allah atas amanah seorang anak. Dengan menyembelih kambing dan membagikan dagingnya, Ayah Bunda mengekspresikan rasa terima kasih sekaligus permohonan agar anak kelak menjadi pribadi yang shalih dan menjaga amanah agama.
Aqiqah juga memiliki fungsi pembersihan. Para ulama menyebutnya sebagai bentuk “tebusan” yg mengangkat sebagian hak anak sejak lahir. Inilah mengapa aqiqah dianjurkan dilakukan pada hari ketujuh, bersamaan dengan pemberian nama, mencukur rambut, dan sedekah.

Namun dalam kehidupan modern, aqiqah juga membawa dimensi sosial. Daging yang dibagikan bukan hanya memberi keberkahan, tapi juga menjadi media berbagi kebahagiaan kepada keluarga, tetangga, dan kaum dhuafa. Inilah yang membuat aqiqah menjadi momen silaturahmi yang mempererat hubungan sosial. Lebih jauh lagi, aqiqah mengajarkan nilai-nilai keikhlasan dalam mendidik anak. Ia seolah menjadi pembuktian awal bahwa anak bukan sekadar generasi penerus, tapi amanah yang harus diarahkan pada kebaikan, ilmu, dan keimanan.
Di era serba praktis seperti sekarang, pelaksanaan aqiqah juga semakin dipermudah dengan adanya jasa layanan aqiqah yang halal, higienis, dan terpercaya. Namun esensi utamanya tetap sama: niat yang lurus, syukur yang tulus, dan berbagi yang ikhlas. Karena itu, aqiqah bukan hanya serangkaian kegiatan perayaan. Ia adalah ibadah, syukur, pendidikan, dan pengharapan. Semoga setiap aqiqah menjadi pembuka kebaikan bagi anak-anak kita dan menjadikan mereka penyejuk ma ta bagi orang tua dan umat. Aamiin.
Penulis: Indra Rizki

