Dalam perjalanan mendidik anak, ada masa ketika si kecil terasa sulit diatur. Dinasehati tidak mendengar, diminta melakukan sesuatu malah membantah, atau justru sibuk dengan dunianya sendiri. Kondisi ini sering membuat orang tua lelah, marah, bahkan merasa gagal. Padahal, dalam Islam, anak adalah amanah yang Allah titipkan, dan setiap amanah membutuhkan kesabaran.
Perlu Ayah Bunda pahami, anak bukanlah miniatur orang dewasa. Mereka msh belajar mengenal emosi, memahami perintah, dan meniru apa yang mereka lihat. Ketika anak sulit diatur, sering kali bukan karena ia sengaja membangkang, tetapi karena belum mampu mengendalikan diri atau belum memahami cara yang kita sampaikan.

Islam mengajarkan bahwa teladan lebih kuat daripada sekadar ucapan. Anak yang melihat orang tuanya bersikap lembut, sabar, dan konsisten, akan lebih mudah diarahkan. Sebaliknya, jika orang tua mudah marah, sering membentak, atau tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan, anak pun cenderung bingung dan sulit patuh.
Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam mendidik dengan kasih sayang. Beliau tidak pernah memukul anak-anak, tidak merendahkan, dan selalu mengajarkan dengan kelembutan. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa cara menyampaikan jauh lebih penting daripada sekadar isi perintahnya. Saat anak sulit diatur, cobalah berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah cukup mendengarkan anak? Apakah waktu bersama mereka sudah berkualitas? Bisa jadi anak bersikap demikian karena ingin diperhatikan, didengar, dan dihargai.
Selain usaha lahir, jangan lupakan doa. Doa orang tua untuk anak adalah doa yang mustajab. Mintalah kepada Allah agar diberi kesabaran dan agar anak-anak kita dilembutkan hatinya. Mendidik anak memang bukan perkara instan. Ia butuh proses, kesabaran, dan keikhlasan. Insya Allah, setiap lelah orang tua yang disertai niat karena Allah akan bernilai pahala dan menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.
Penulis: Indra Rizki

