Pilih Paket Aqiqah Sesuai Budget & Kebutuhan Anda!
Kami bantu pilihkan paket aqiqah terbaik. Konsultasikan budget & jumlah dus Anda sekarang!
👉 Konsultasi Paket Aqiqah Sekarang →Dalam mendidik anak, mungkin Ayah Bunda tanpa sadar menggunakan cara instan seperti menakut-nakuti atau mengelabui si Kecil agar mereka patuh. Kalimat seperti ancaman atau janji palsu mungkin terlihat efektif dalam jangka pendek, namun cara ini menyimpan dampak serius bagi perkembangan jiwa anak, terutama dalam hal kepercayaan.

Islam sangat menekankan kejujuran, bahkan dalam interaksi sederhana dengan anak. Rasulullah ï·º menegur orang tua yang berjanji kepada anak namun tidak menepatinya, karena hal tersebut termasuk dusta. Ini menunjukkan bahwa kebohongan, sekecil apa pun, tetap bernilai dosa dan berdampak pada pendidikan akhlak anak.
Menakut-nakuti anak dapat merusak rasa aman yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat secara emosional. Anak mungkin menjadi patuh karena takut, bukan karena memahami kebaikan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa melahirkan pribadi yang cemas, penakut, atau sulit mengendalikan emosi. Lebih buruk lagi, jika ancaman dikaitkan dengan sosok tertentu seperti dokter, polisi, atau bahkan agama, anak bisa tumbuh dengan ketakutan yang keliru.
Sementara itu, mengelabui anak dengan janji palsu secara perlahan mengikis kepercayaan mereka kepada orang tua. Ketika anak menyadari bahwa ucapan orang tuanya tidak selalu benar, mereka akan ragu, bahkan meniru kebiasaan berbohong tersebut. Padahal, kepercayaan adalah pondasi utama hubungan orang tua dan anak.
Islam mengajarkan pendidikan dengan kelembutan, dialog, dan keteladanan. Si Kevil perlu diarahkan dengan penjelasan yang sesuai usia, disertai contoh nyata dari orang tua yang jujur dan konsisten. Dengan cara ini, anak belajar patuh karena paham, bukan karena takut.
Ayah dan Bunda, kepercayaan anak adalah amanah. Menjaganya dengan kejujuran dan kasih sayang akan menumbuhkan akhlak yang kuat dan jiwa yang tenang. Karena pasti dari rumah lah, mereka pertama kali belajar makna kebenaran.
Penulis: Indra Rizki
