Bolehkah Si Kecil Minum Jamu? Yuk Ketahui Informasinya!

Bolehkah Si Kecil Minum Jamu?

Aqiqah Al Hilal – Telah menjadi tradisi bagi setiap warga di Indonesia untuk mengonsumsi jamu-jamuan. Minuman yang berasal dari rempah-rempah ini dipercaya dapat memberikan khasiat untuk kesehatan.

Karena itulah, tak sedikit orangtua juga memberikan jamu kepada buah hatinya. Bahan-bahan yang umum digunakan untuk membuat jamu antara lain jahe, temulawak, kunyit, dan kencur.

Bahan-bahan ini juga sering ditemukan pada jamu untuk anak yang dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan mereka. Namun, sebenarnya apakah boleh si Kecil mengonsumsi jamu?

Melansir dari laman alodokter.com, bahwa sebenarnya, memberikan jamu kepada anak boleh-boleh saja, tetapi ada aturannya. Jamu jelas tidak boleh diberikan kepada anak berusia di bawah 6 bulan, karena pada usia ini anak hanya butuh nutrisi dari ASI atau susu formula.

Batasan umur anak untuk meminum jamu ditentukan berdasarkan kandungannya. Sebagian besar jamu diracik dengan lebih dari satu bahan. Inilah mengapa penting bagi Ayah dan Bunda untuk memilih jamu yang kandungannya jelas.

Jamu yang mengandung jahe tidak dianjurkan untuk anak usia di bawah 6 tahun. Jahe sebenarnya baik untuk pencernaan. Namun, rasa jahe yang pedas dan tajam bisa menyebabkan nyeri ulu hati pada anak, terutama bila diberikan dalam kadar yang tinggi.

Sementara untuk jamu yang mengandung kunyit, tidak dianjurkan untuk anak usia di bawah 12 tahun. Kunyit diketahui dapat mencegah penyerapan zat besi di usus. Hal ini dapat memperbesar risiko terjadinya anemia defisiensi besi pada anak, apalagi anak yang susah makan.

Untuk bahan-bahan jamu lainnya, seperti temulawak dan kencur, bukti yang menunjukkan manfaat dan efek samping penggunannya pada anak-anak masih sangat terbatas. Ditambah lagi, dosis bahan jamu di atas yang efektif dan aman untuk anak pun belum benar-benar diketahui.

Jadi, Ayah dan Bunda tetap disarankan untuk berhati-hati. Si Kecil mungkin bisa menyukai jamu, karena banyak jamu yang diolah dengan gula atau gula merah. Namun, jamu tidak dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari, maksimal hanya satu kali sebulan.

Ayah dan Bunda juga tidak boleh sembarangan memberikan jamu kepada si Kecil. Jika Ayah dan Bunda ingin membeli jamu kemasan, pastikan produk tersebut tersegel dengan baik, telah memiliki izin edar BPOM, serta mencantumkan dengan jelas bahan-bahan yang digunakan, tanggal kedaluwarsa, dan peringatan atau cara penggunaan.

Selain membeli produk jamu kemasan, Ayah dan Bunda juga bisa membuat jamu sendiri. Jika Ayah dan Bunda berniat untuk membuat jamu sendiri, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan, yaitu:

  • Bahan-bahan yang digunakan harus segar, dan utuh, tidak mengandung hama.
  • Bahan-bahan jamu harus dicuci dengan air mengalir hingga bersih.
  • Jamu dibuat menggunakan panci stainless steel atau panci blirik, bukan dengan panci alumunium.
  • Jamu yang sudah dibuat dianjurkan untuk disimpan dalam botol kaca, bukan botol plastik.
  • Tempat pembuatan jamu harus dalam kondisi bersih, serta terbebas dari paparan hewan dan sampah yang berisiko membawa kuman dan jamur.

Itulah informasi mengenai pemberian jamu untuk si Kecil yang harus Ayah dan Bunda ketahui. Tetap awasi reaksi alergi dan gangguan pencernaan yang mungkin bisa terjadi ketika Si Kecil mencobanya pertama kali.

Selain itu, jika Si Kecil memiliki suatu kondisi medis atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya konsultasikan kepada dokter terlebih dahulu sebelum memberinya jamu apa pun.

Sumber gambar: klikdokter.com

Penulis: Aisyah