Sales:    (022)-2005079  ,  081321018620 | 082116549170 | Pin:2B4FEA93  
  • Subcribe to Our RSS Feed
Tagged with " pusat aqiqah"

Aqiqah dari dubai

Oct 7, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

1

Ini kesekian kali nya  Aqiqah Ahilal mendapatkan pelanggan dari luar negeri. Setelah beberapa bulan yang lalu dari Malaysia, singapura dan brimingham (Inggris) skrng dari negara dubai yang melakasanakan Aqiqah di Alhilal.

Alhamdulillah telah di aqiqahkan dengan memotong satu Ekor domba untuk “Naya El  Kourichi”  pada tanggal 06 Oktober 2017 kemarin yang bertepatan pada hari jumat.

Diana Unger dan Abdnibi Elkourichi yaitu orangtua dari Naya mempercayakan pendistribusian nya kepada Aqiqah Alhilal.

Kami doakan semoga aqiqah berkah dan anak nya menjadi anak yang sholehah.

Meskipun terpisah oleh jarak dan waktu, kami disini dan juga anak yatim yayasan alhilal selalu mendoakn yang terbaik untuk Ananda Naya El Kourichi dan semuanya.

Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin

Nama nama yang disunahkan

Sep 30, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

Mendapapatkan nama yang baik merupakan hak anak dan kewajipan kedua orang tua (ibu dan bapak) memberikan nama yang baik kepada bayi yang baru dilahirkan. Memberikan nama anak yang baik merupakan tuntutan Islam . Pemberian nama kepada anak dengan nama yang baik sangat penting, sehingga kelak anak merasa senang dan tidak merasa malu dengan nama yang disandangnya.

Adapun nama nama yang disunahkan untuk diberikan kepada Anak ialah :

1. Nama Abdullah dan Abdurrahman berdasarkan hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Kitab Shahihnya dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)
Karena nama tersebut adalah nama terbaik, sampai-sampai di kalangan para sahabat terdapat sekitar 300 orang yang bernama Abdullah.

2. Nama yang menunjukkan penghambaan diri terhadap salah satu dari nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla, seperti Abdul Malik, Abdul Bashiir, Abdul ‘Aziz dan lain-lain.Namun perlu diketahui di sini bahwa hadits, “Sebaik-baik nama adalah yang dimulai dengan kata “Abd (hamba)” dan yang bermakna dipuji” bukanlah hadits shahih bahkan tidak diketahui darimana asal-usulnya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama.

3. Bernama dengan nama para nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akhlak yang paling mulia dan memiliki amalan yang paling bersih. Diharapkan dengan memberi nama seorang anak dengan nama nabi ataupun rasul dapat mengenang mereka juga karakter dan perjuangan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga pernah menamakan anaknya dengan nama Ibrahim, nama ini juga beliau berikan kepada anak sulung Abu Musa radhiallahu ‘anhu dan beliau juga menamakan anak Abdullah bin Salaam dengan nama Yusuf.Adapun hadits tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad tidak ada yang shahih. Ibnu Bukair al-Baghdadi menyusun sebuah kitab tentang keutamaan orang yang bernama Ahmad atau Muhammad, dan pada kitab tersebut beliau menyertakan 26 hadits yang tidak shahih. Wallahu a’lam.

4. Memberi nama dengan nama orang-orang shalih di kalangan kaum muslimin terutama nama para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits shahih dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka.” (HR. Muslim no. 2135)

5. Memilih nama yang mengandung sifat yang sesuai orangnya (namun dengan syarat nama tersebut tidak mengandung pujian untuk diri sendiri, tidak mengandung makna yang buruk atau mengandung makna celaan), seperti Harits (orang yang berusaha) dan Hammam (orang yang berkeinginan kuat).Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang dha’if dari Abu Wahb al-Jusyami bahwasannya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pakailah nama para nabi, nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang paling benar adalah nama Harits dan Hammam dan yang paling jelek nama Harb dan Murrah.” (HR. Abu Daud dan An Nasai. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana disebutkan dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1977)

Hukum Mengaqiqahi Anak Melalui Jasa Layanan Aqiqah

Sep 21, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

 

IMG_1567

 

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Mengaqiqahi  anak melalui jasa pelayanan aqiqah dibolehkan, walaupun ia tak melihat langsung proses penyembelihannya. Ini termasuk bab taukil (mewakilkan), yang menjadi inti adalah niatnya muwakkil (orang yang menyerahkan perwakilan dirinya kepada selainnya). Dalam hal ini, point utamanya ada pada niat orang yang mewakilkannya (empunya aqiqah). Sementara niatnya si wakil (orang yang mewakilkan) dalam menyembelih hewan aqiqah pesanan dan “atas nama siapanya” bukan menjadi syarat sahnya aqiqah. Jika seseorang yang menjadi wakil menyembelihnya dengan hanya menyebut nama Allah & tanpa menyebutkan nama orang yang diaqiqahi atasnya, maka sah aqiqah tersebut.

Hal ini diqiyaskan dengan hewan kurban. Karena hukum aqiqah seperti hukum kurban dalam syarat hewannya, apa-apa yang disunnahkan dan dimakruhkan, dalam urusan memakannya, menyedekahkannya dan menghadiahkannya. Sebagaimana jika ada orang yang berkurban mengirimkan sejumlah uang seharga hewan kurban kepada panitia / penyelenggara penyembelihan hewan kurban untuk dibelikan hewan kurban, disembelihkan dan dibagikan dagingnya maka tetap sah qurban orang tadi.

Walaupun, tentunya, yang paling utama adalah si empunya menyembelih sendiri hewan aqiqah tersebut atau menyaksikan penyembelihannya. Karena ini bagian dari syi’ar Islam yang agung. Keterlibatannya secara langsung akan lebih menguatkan tertanamnya nilai-nilai hikmah aqiqah dalam dirinya. Namun jika tidak sempat, tidak mengapa mewakilkannya kepada orang lain atau jasa penyedia layanan aqiqah. Wallahu A’lam.

 

Sumber : http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2013/10/25/27300/hukum-mengaqiqahi-anak-melalui-jasa-layanan-aqiqah/#sthash.s2s2wcpX.dpbs

ws

Hukum Mengaqiqahi Anak Melalui Jasa Layanan Aqiqah

aqiqah adalah bentuk rasa syukur

Sep 7, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

 

IMG-20150917-WA0004

 

Hukum Aqiqah adalah sunah muakkadah, yaitu wajib dilakukan sesuai dengan kemampuan perekonomian orantuanya. Tetapi sebagian Ulama menyatakan bahwa orangtua yang mampu untuk melakukannya maka hukumnya adalah wajib.

Sebagian Ulama berpendapat bahwa tujuan pemotongan hewan ini sebagai penebus untuk melepaskan kekangan jin yang mengiringi seorang anak sejak dilahirkan. Adapun tujuan lainnya dari Aqiqah ini adalah sebagai bentuk rasa syukur orangtua telah memiliki keturunan, dan diberi nikmat keselamatan bagi anak dan ibu yang melahirkan.

Mengenai waktu yang terbaik untuk melakukan pemotongan hewannya, Rasulullah S.A.W bersabda, “Seorang anak tertahan hingga ia diaqiqahi, (yaitu) yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama pada waktu itu” (HR. Imam Ahmad). Sesuai dengan sunnah tersebut, Imam Ahmad berpendapat bahwa pemotongan hewan dapat dilakukan pada hari ketujuh, atau hari keempat belas, maupun hari keduapuluh satu. Sementara menurut Imam Malik sembelihan hewan pada hari ketujuh bersifat sunnah, jadi pemotongan hewan kambing pada hari keempat, atau kedelapan ataupun kesepuluh ataupun sesudahnya masih diperbolehkan. Tentu saja anda pilih salah satu dari waktu tersebut sesuai dengan kemampuan anda.

Aqiqah Harvi Fahmi Melmanda

Aug 25, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

Alhamdulillah telah di laksanakan Aqiqah untuk Harvi Fahmi Melmanda Putra dari Bapak Lizard Freddy.

Aqiqah  di laksanakan pada Hari Kamis Tanggal 24 Agustus 2017.

Aqiqah ini di laksanakan beberapa hari sebelum melangsungkan pernikahan mas Harvi Fahmi.

“sebelum nikah pengen Aqiqah dulu, meskipun sudah dewasa” kata ibu Rimawati.

kami dari Aqiqah al Hilal mendoakan semoga aqiqah nya berkah , pernikahan nya lancar, dan mendoakan semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dan kelak mendapatkan keturunan yang sholeh dan sholehah.

Aamiin Ya Alloh

 

Doc1-page-001

Cara Menghitung Hari Ketujuh Untuk Menyembelih Aqiqah

Aug 14, 2017   //   by Zahra Amelia   //   Artikel  //  No Comments

Aqiqah adalah salah satu ibadah yang di contohkan oleh Rasululloh Shallallahu`alaihi Wa Sallam. Banyak hadist yang menganjurkan aqiqah untuk anak. Salah satu nya hadist yang diriwayatkan oleh abu dawud yang artinya “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, lalu digundul kepalanya dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, no. 2455 dan dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albany), hadits lain mengatakan “Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas , atau keduapuluh satunya. (HR. Baihaqi dan Thabrani). Seperti yang di kutip dari hadist diatas bahwa aqiqah di anjurkan di sembelih pada ahari ketujuh namun sebagian dari kita mungkin banyak pertanyaan yang belum kita ketahui seperti : 1. Bagaimana cara menghitung hari ketujuh untuk menyembelih hewan aqiqah? 2. Apakah boleh di potong sebelum atau sesudah hari ketujuh?

Berikut jawaban nya

1. Para ulama sepakat bahwa waktu yang paling utama dan tidak ada perbedaan pendapat untuk menyembelih hewan aqiqah adalah hari ketujuh sejak kelahiran bayi. Namun mereka berbeda pendapat ketika menetapkan cara menghitungnya. Apakah hari kelahiran bayi ikut dihitung sebagai hari pertama, ataukah hitungan hari pertama jatuh pada hari berikutnya.

a. Cara Al-Malikiyah Al-Imam Malik menghitung hari pertama kelahiran bayi adalah keesokan harinya atau sehari setelah hari kelahiran. Misalnya, seorang bayi dilahirkan pada hari Selasa, maka hitungan hari pertama adalah Rabu, hari kedua Kamis, hari ketiga Jumat, hari keempat Sabtu, hari kelima Ahad, hari keenam Senin dan hari ketujuh adalah hari Selasa. Maka waktu untuk menyembelih hewan aqiqah adalah hari Selasa, yaitu hari yang sama dengan hari kelahiran bayi, seminggu kemudian. Tetapi ada sedikit catatan, yaitu bila bayi lahir lewat tengah malam sebelum terbit fajar, maka hari kelahirannya itu sudah mulai dihitung sebagai hari pertama. Misalnya bayi lahir hari Selasa dini hari jam 02.00. Maka hari Selasa itu sudah dianggap hari pertama, sehingga hitungan hari ketujuh akan jatuh di hari Senin dan bukan hari Selasa. Pendapat Al-Imam Malik ini sejalan dengan pandanga para ulama lain seperti Al-Imam An-Nawawi dan Al-Buwaithi dari mazhab Asy-Syafi’iyah.

b. Cara Ibnu Hazm Sedangkan Ibnu Hazm berpendapat bahwa cara menghitungnya adalah dengan menjadikan hari kelahiran sebagai hari pertama. Sehingga bila ada bayi lahir di hari Selasa, maka hari pertama adalah Selasa, hari kedua Rabu, hari ketiga Kamis, hari keempat Jumat, hari kelima Sabtu, hari keenam Ahad, dan hari ketujuh adalah Senin. Maka hewan aqiqah disembelih pada hari Senin dan bukan hari Selasa. Yang sejalan dengan pendapat Ibnu Hazm ini antara lain Ar-Rafi’i dari mazhab Asy-Syafi’iyah. Tabel Untuk memudahkan kita memahami perbedaan cara perhitungan dari keduanya, silahkan lihat tabel di bawah ini : hari lahirNamun perlu dicatat bahwa inti ritual aqiqah bukan pada resepsi acaranya, melainkan pada penyembelihannya. Resepsi dan pesta terserah mau dilakukan kapan saja, yang penting penyembelihannya itu sendiri. Karena inti dari ritual aqiqah sebenarnya adalah menyembelih hewan dan bukan pesta.

 

2. Namun para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidak bolehnya menyembelih aqiqah bila waktunya bukan pada hari ketujuh.

a. Al-Malikiyah Mazhab Al-Malikiyah menetapkan bahwa waktu untuk menyembelih hewan aqiqah hanya pada hari ketujuh saja. Di luar waktu itu, baik sebelumnya atau pun sesudahnya, menurut mazhab ini tidak lagi disyariatkan penyembelihan. Artinya hanya sah dilakukan pada hari ketujuh saja.

b. Asy-Syafi’iyah Pendapat mazhab Asy-Syafi’iyah lebih luas, karena mereka membolehkan aqiqah disembelih meski belum masuk hari ketujuh. Dan mereka pun membolehkan disembelihkan aqiqah meski waktunya sudah lewat dari hari ketujuh. Dalam pandangan mazhab ini, menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh adalah waktu ikhtiyar. Maksudnya waktu yang sebaiknya dipilih. Namun seandainya tidak ada pilihan, maka boleh dilakukan kapan saja.

c. Al-Hanabilah Mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa bila seorang ayah tidak mampu menyembelih hewan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran bayinya, maka dia masih dibolehkan untuk menyembelihnya pada hari keempat-belas. Dan bila pada hari keempat-belasnya juga tidak mampu melakukannya, maka boleh dikerjakan pada hari kedua-puluh satu. Ibnu Hazm menyebutkan bahwa tidak disyariatkan bila menyembelih hewan aqiqah sebelum hari ketujuh, namun bila lewat dari hari ketujuh tanpa bisa menyembelihnya, menurutnya perintah dan kewajibannya tetap berlaku sampai kapan saja. Sekedar catatan, Ibnu Hazm termasuk kalangan yang mewajibkan penyembelihan hewan aqiqah. Sehingga karena dalam anggapannya wajib, maka bila tidak dikerjakan, wajib untuk diganti atau diqadha’. Dan qadha’ itu tetap berlaku sampai kapan pun.

Wallahu a’lam bishshawab,

 

Sumber http://www.rumahfiqih.com/konsultasi-1368345231-cara-menghitung-hari-ketujuh-untuk-menyembelih-aqiqah.html